Makassar, Tim medis Rumah Sakit TNI AL (Rumkit TNI AL) Jala Ammari Komando Daerah TNI Angkatan Laut (Kodaeral) VI kembali menunjukkan kesiapsiagaan dan profesionalisme mereka dalam tugas kemanusiaan. Dengan aksi cepat, tim berhasil menyelamatkan seorang penyelam tradisional asal Pulau Balang Lompo Sulawesi Selatan, yang mengalami penyakit dekompresi type 2. Rabu (26/11/2025)
Insiden ini menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para penyelam tradisional, terutama mereka yang menyelam di kedalaman lebih dari 10 meter dan naik ke permukaan dengan cepat, yang rentan terhadap gangguan kesehatan akibat perubahan tekanan drastis.
Karumkit (Kepala Rumah Sakit) Jala Ammari Kodaeral VI Letkol Laut (K) dr. Suhadi, Sp.KL., Subsp. P.H (K)., M.K.K., MH.Kes, AIFO-K, CHQP, MQM, FIHFAA, FISQua menyampaikan bahwa Pasien, atas nama Zulkarnain umur 35 tahun warga Pulau Balang Lompo Kab. Pangkep, dilarikan ke Rumkit TNI AL Jala Ammar Kodaeral VI setelah menunjukkan gejala penyakit dekompresi type 2, suatu kondisi di mana gelembung gas nitrogen yang terbentuk tidak larut dalam darah dan jaringan tubuh akibat penurunan tekanan yang cepat. Gejala yang dialami pasien dilaporkan cukup parah, memerlukan penanganan medis segera menggunakan fasilitas khusus, yaitu hyperbaric chamber
Setibanya di rumah sakit, tim medis yang dipimpin oleh tim Spesialis Kedokteran Kelautan Subsp. Penyelaman dan Hiperbarik konsuktan (Sp. KL Subsp. P. H (K), segera mengambil tindakan. Pasien dimasukkan ke dalam Hyperbaric Chamber (ruang dekompresi), fasilitas medis canggih yang dimiliki oleh Rumkit TNI AL Jala Ammari dan menjadi salah satu unggulan di kawasan timur Indonesia, ujar Karumkit Jala Ammari.
lebih lanjut , Karumkit menjelaskan bahwa beberapa penyelam tradisional sering mengalami dekompresi, baik type 1 maupun type 2. Hal ini dapat terjadi salah satunya adalah bahwa penyelam tradisional tersebut dalam melakukan kegiatan penyelaman tidak menggunakan tabel penyelaman serta alat kompressor yang digunakan mungkin kurang diperhatikan oli kompressornya. Adapun penanganan kasus DCS tersebut hanya bisa dilakukan dengan Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB) di dalam Ruang Udara Bertekanan Tinggi (RUBT) yang lebih dikenal dengan istilah Hyperbaric Chanber, yang memungkinkan pasien untuk secara bertahap mengurangi tekanan dalam tubuh, melarutkan kembali gelembung gas nitrogen, oksigenisasi jaringan dan mengembalikan kondisi fisiologis normal. Aksi cepat tim medis dan ketersediaan fasilitas ini menjadi kunci dalam menyelamatkan nyawa pasien, ujarnya.
Tindakan cepat penanganan medis ini merupakan arahan dari Komandan Kodaeral VI, Laksamana Muda TNI Andi Abdul Aziz, S.H., M.M., yang merupakan wujud nyata kepedulian TNI AL terhadap masyarakat pesisir, dan menegaskan komitmen untuk selalu hadir membantu masyarakat yang membutuhkan, terutama dalam kondisi darurat medis kelautan.
Menurut pendapat Karumkital Jala Ammari dr. Suhadi, Sp.KL, perlunya kolaborasi dan sinergi antar stakeholder terkait dalam mengurangi angka kejadian penyakit dekomoresi pada penyelam tradisional, yaitu melalui edukasi pentinganya mengetahui efek samping penyelam menggunakan kompressor bagi oenyelam, pentingnya melaksanakan Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB) bagi oenyelam meskipun tidak ada dekompreai serta penangan awal terhadap kasus dekompresi bagi tenaga medis di daearah pesisir.
Kondisi pasien dilaporkan berangsur membaik setelah menjalani serangkaian sesi terapi di ruang hiperbarik. Kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya keselamatan dan prosedur penyelaman yang benar bagi para penyelam tradisional.
VI .#tnial_kodaeralvi



